KARAKTERISTIK LALU LINTAS
NAMA : AGUS SAPUTRA
NPM : 17630071
KARAKTERISTIK LALU LINTAS
Karakteristik
pengguna jalan bervariasi dari satu orang ke orang lain, baik
karakteristik mentalnya maupun karakteristik phisik pengguna jalan.
Dalam merancang lalu lintas perlu dipahami karaktaristik pengguna agar
bisa menggunakan semua variabel karakteristik pengguna jalan dalam
merencanakan, mengoperasikan serta mengendalikan lalu lintas yang aman,
aman, efisien dan berwawasan lingkungan. Karakteristik pengguna jalan
merupakan bagian yang sangat penting untuk diketahu oleh para perencana
lalu lintas. Pemahaman karakteristik pengguna jalan perlu dibedakan
antara pengguna kendaraan dan pejalan kaki. Ada
empat karakteristik yang mempengaruhi mental seorang pengemudi, yaitu
secara kecerdasan/inteligensia, motivasi, belajar dan emosi.
Kecerdasan
Istilah kecerdasan diturunkan dari kata
inteligensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inteligensi adalah
kemampuan berurusan dengan abstraksi- abstraksi mempelajari suatu
kemampuan menangani situasi- situasi baru.
Secara umum, kecerdasan (inteligensi)[3] merupakan
suatu konsep abstrak yang diukur secara tidak langsung oleh para
psikolog melalui tes inteligensi untuk mengestimasi proses intelektual /
kesanggupan mental untuk memahami, menganalisis secara kritis cermat
dan teliti, serta menghasilkan ide-ide baru secara efektif dan efisien,
sehingga kajian-kajian kecelakaan yang terkait dengan kecerdasan
menunjukkan semakin tinggi kecerdasan akan semakin baik[4] menganalisis keadaan untuk mengambil langkah pengemudian kendaraan yang lebih tepat.
Motivasi
Pertimbangan motivasi untuk melakukan
perjalanan merupakan bagian dasar perencanaan lalu lintas. Motivasi
dipengaruhi oleh kelelahan suasana bathin pengemudi dan kejenuhan
sehingga pengemudi menjadi kurang hati-hati dan beresiko terhadap
kecelakaan.
Upaya meningkatkan motivasi dilakukan
melalui pendekatan keagamaan, pendidikan, reward dan punishment kepada
pengemudi. Punishment bisa dilakukan oleh aparat penegak hukum melalui
penegakan hukum yang tegas, khusus untuk perusahaan angkutan umum atau
supir perusahaan diakukan dengan penetapan aturan perusahaan yang
dikendalikan oleh perusahaan. Untuk pelaksanaannya dapat menggunakan
sistem informasi moder yang memanfaatkan satelit GSM, tapi dilain pihak
untuk meningkatkan motivasi perlu memberikan insentif.
Belajar
Untuk bisa mengendalikan kendaraan dalam
lalu lintas dengan sempurna, pengguna jalan senantiasa harus
meningkatkan keahliaannya dan pengetahuannya. Semakin berpengalaman
seorang pengemudi semakin mulus mengemudikan kendaraannya dan semakin
rendah pelanggaran yang dilakukannya, dengan catatan bahwa pengemudi
senantiasa diawasi oleh aparat, dan diambil tindakan kalau melakukan
pelanggaran.
Emosi
Emosi seorang pengemudi akan mempengaruhi
keputusan yang akan dibuatnya atas dasar pengalaman yang dimilikinya,
kecerdasannya serta pengendalian yang dilakukan atas jalannya
operasional lalu lintas. Usia seseorang juga mempengaruhi emosi dalam
berlalu lintas. Seorang pejalan kaki yang sedang menyeberang akan
mempunyai reaksi yang berbedaa antara kelompok orang tua (manula),
kelompok orang dengan usia produktif dan kelompok usia anak-anak.
Karakteristik phisik
Karakteristik phisik yang paling penting
dari seorang pengemudi adalah kemampuannya untuk bisa melihat dengan
jelas objek tetap berupa jalan dan perlengkapan diatasnya yang mencakup
bidang penglihatannya dan buta warna.
Penglihatan
Bidang penglihatan
Bidang penglihatan mata
Bidang pelinghatan dapat dikelompokkan atas:
· Kerucut
penglihatan tajam 3° sampai 10° disekitar pusat pandangan yang biasanya
digunakan untuk membaca, terfokus pada objek yang dilihat.
· Kerucut
cukup jelas 10° to 12° disekitar pusat pandangan warna dan bentuk dapat
terlihat dengan jelas, rambu dipinggir jalan terlihat.
· Pandangan
sekeliling 90° kekiri kanan pusat pandangan, adanya pergerakan disini
masih terdeteksi. Sudut pandang semakin mengecil dengan bertambahnya
kecepatan, khususnya kalau melihat dari ruang kemudi seperti ditunjukkan
dalam gambar[6] berikut:
Titik Buta
Kendaraan
biru bisa melihat kendaraan hijau tetapi tidak bisa melihat kendaraan
merah (di titik buta) melalui cermin yang ada di kendaraan
Titik buta dalam
berkendara adalah bagian dari sekeliling kita yang tidak bisa kelihatan
pada saat mengemudikan kendaraan, karena beberapa alasan seperti
jangkauan pandangan yang terbatas cermin[7], terhalang oleh muatan yang
dibawa. Titik buta mobil penumpang adalah di sebelah kiri dan kanan
pengemudi seperti ditunjukkan dalam gambar. Untuk kendaraan box, truk
dan truk peti kemas, pandangan melalui cermin tengah tidak ada jadi
mereka tergantung kepada cermin pintu. Kendaraan yang tinggi seperti
bus, truk tidak bisa melihat di sekitar mereka yang rendah.
Letak titik buta
Letak titik buta tergantung kepada jenis
kendaraan yang digunakan. Titik buta mobil penumpang adalah di sebelah
kiri dan kanan pengemudi seperti ditunjukkan dalam gambar. Untuk
kendaraan box, pandangan melalui cermin tengah tidak ada jadi mereka
tergantung kepada cermin pintu. Kendaraan yang tinggi tidak bisa melihat
di sekitar mereka yang rendah.
Titik buta truk trailer
Truk dengan kereta gandengan dan truk
dengan kereta tempelan juga mempunyai kelemahan dalam melihat kaca
sepion terutama pada saat membelok, yang mengaikibatkan dia tidak bisa
melihat apa yang terjadi di belakangnya, selain itu kendaraan lain juga
bisa berjalan terlalu dekat di belakang truk trailer untuk berlindung
dari terpaan angin, dan hal ini sangat berbahaya sebab kendaraan yang di
belakang tidak mengetahui kalau tiba-tiba truk trailer yang di depan
mengerem kendaraannya. Sangatlah penting agar pengemudi trailer
mengetahui anda berada di belakang.
Langkah untuk mengurangi pengaruh titik buta
Tiga buah cermin yang dipergunakan untuk memperluas pandangan pengemudi
Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menghilangkan pengaruh titik buta antara lain dengan:
· menggunakan cermin cembung untuk memperluas pandangan,
· menggunakan
beberapa cermin sekaligus, sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih
jelas mengenai keadaan disekeliling kendaraan,
· cermin di belakang yang biasa digunakan pada minibus,
· ataupun yang modern adalah penggunaan kamera video[8] sehingga
dapat melihat kondisi di belakang kendaraan secara lebih jelas, bahkan
ada layar yang ditempatkan didashboard dilengkapi dengan lintasan yang
akan dilewati.
· sensor jarak yang dipergunakan pada saat kendaraan sedang berjalan ataupun berjalan mundur.
Reaksi pengemudi
Kendaraan yang bergerak tidak bisa
dihentikan seketika tetapi melalui suatu proses yang terkait dengan
waktu reaksi sebelum mengambil langkah, semakin cepat kendaraan berjalan
akan semakin rawan terhadap terjadinya kecelakaan.
Waktu Reaksi
Waktu yang diperlukan antara melihat suatu
kejadian, mengolah informasi tersebut diotak untuk kemudian mengambil
reaksi disebut sebagai waktu reaksi, atau didalam berbagai referensi
disebut sebagai PIEV sebagai singkatan dari Perception, Intelection,
Emotion dan Volition.
· Perception, merupakan saat pandangan mata yang menangkap adanya suatu keadaan/ancaman dihadapan pengemudi.
· Intelection,
informasi yang diperoleh mata selanjutnya dikirim ke otak oleh syaraf
mata, informasi diolah oleh otak dengan menggunakan kecerdasan otak
dengan menggunakan ingatan masa lalu ataupun analisis keadaan.
· Emotion,
pengambilan keputusan diotak, mengenai langkah yang akan dilakukan
untuk menghadapi keadaan/ancaman dengan berbagai
pertimbangan-pertimbangan yang sering-sering dipengaruhi oleh emosional
pengemudi.
· Volition,
merupakan instruksi yang telah diolah untuk diteruskan melalui syaraf
kepada tindakan yang akan diambil oleh tangan, dan kaki pengemudi.
Waktu PIEV seorang pengemudi rata-rata 2,5
detik tetapi dapat lebih cepat pada orang-orang tertentu seperti
pembalap yang harus mengambil tindakan/langkah dengan sangat cepat dan
lebih lama pada orang-orang yang lebih tua, minum obat, kelelahan,
gangguan phisik pada penderita cacat, cuaca.
Besarnya waktu reaksi ini penting dalam
merancang berbagai perangkat lalu lintas seperti pada survai arus jenuh
pada persimpangan, dalam perhitungan waktu hijau/merah pada Alat
Pengendali Isyarat Lalu Lintas (APILL), penempatan rambu dan lain
sebagainya.
Jarak reaksi
Dengan diketahuinya waktu reaksi maka
dapat dihitung jarak yang ditempuh kendaraan sebelum pengemudi bereaksi
dengan menggunakan rumus berikut:
dimana:
d = jarak reaksi, m
t = waktu reaksi, detik
S = kecepatan awal kendaraan, km/jam
Kecepatan rata-rata ruang digunakan untuk mengevaluasi kinerja tingkat efektivitas dari suatu sistem lalu-lintas, yang terkait dengan tundaan, antara lain meliputi: penilaian efisiensi rute dalam lalu-lintas, identifikasi lokasi kemacetan dalam sistem jalan utama, pendefinisian kemacetan menurut lokasi, evaluasi efektivitas perbaikan (sebelum dan sesudah), perhitungan biaya pengguna jalan, perhitungan tingkat pelayan dan kapasitas untuk arus lalu-lintas menerus, untuk pengembangan model dalam perencanaan transportasi (trip distribution dan trip assignment).
Terdapat 3 (tiga) karakteristik utama dari lalu-lintas, yaitu: arus, kecepatan dan konsentrasi (Daniel L dan Mathew J.H, 1975).
Arus Lalu-lintas atau Volume Lalu-lintas (Q) adalah jumlah kendaraan berdasarkan satuan waktu yang dirumuskan dengan:
q = N/T ……………………………………………………………….(1)
dimana: N = jumlah kendaraan yang melintasi titik tertentu,
T = satuan waktu tertentu.
Umumnya
dalam praktek teknik lalu-lintas, perhitungan arus atau volume
lalu-lintas dilakukan dalam interval waktu 1 jam atau 15 menit.
Untuk lebih memahami tentang arus lalu-lintas, perlu juga dipahami tentang apa yang disebut sebagai “headway”.
“Headway” adalah ukuran interval waktu kedatangan antara kendaraan (diukur pada titik bagian depan kendaraan, misal: bumper) yang melintasi titik tertentu, yang dirumuskan dengan:
q = 1/ h …………………………………………………………(2)
dimana: q = arus/volume lalu-lintas,
h = mean headway.
Kecepatan rata-rata adalah
ukuran yang penting dari kinerja lalu-lintas, yang dinyatakan dalam
kilometer/jam atau mil/jam. Terdapat dua jenis kecepatan rata-rata,
yakni: kecepatan sesaat rata-rata (spot speed) atau time mean speed, dan kecepatan rata-rata ruang (space mean speed) atau travel time.
Kecepatan sesaat rata-rata (spot speed) yaitu
nilai rata-rata dari serangkaian kecepatan sesaat dari individu
kendaraan yang melintasi titik tertentu pada suatu ruas jalan, yang
dirumuskan dengan:
ut = 1/N Σ u(1-n) ……………………………………………..(3)
dimana: ut = Kecepatan sesaat rata-rata (spot speed)
N = Jumlah kendaraan
u(1-n) = Kecepatan individu kendaraan.
Kecepatan
sesaat digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pengoperasian dari
perangkat pengaturan lalu-lintas dan teknik lalu-lintas, seperti:
penentuan peraturan lalu-lintas dan peralatan kontrolnya, studi pada
lokasi rawan kecelakaan, dan untuk menentukan elemen-elemen desain
geometrik jalan raya.
Kecepatan rata-rata ruang (space mean speed) yaitu kecepatan rata-rata waktu tempuh kendaraan, yang dirumuskan dengan:
us = D / t …………………………………………………….. (4)
dimana: us = Kecepatan rata-rata ruang (space mean speed)
D = Jarak
t = waktu tempuh rata-rata
Kecepatan rata-rata ruang digunakan untuk mengevaluasi kinerja tingkat efektivitas dari suatu sistem lalu-lintas, yang terkait dengan tundaan, antara lain meliputi: penilaian efisiensi rute dalam lalu-lintas, identifikasi lokasi kemacetan dalam sistem jalan utama, pendefinisian kemacetan menurut lokasi, evaluasi efektivitas perbaikan (sebelum dan sesudah), perhitungan biaya pengguna jalan, perhitungan tingkat pelayan dan kapasitas untuk arus lalu-lintas menerus, untuk pengembangan model dalam perencanaan transportasi (trip distribution dan trip assignment).
Konsentrasi adalah jumlah kendaraan per satuan jarak, dan diestimasikan menggunakan persamaan:
k = q / us ………………………………………………………….(5)
dimana: k = Konsentrasi lalu-lintas
q = Arus/Volume lalu-lintas
us = kecepatan rata-rata ruang (time mean speed)
B. Model Arus Lalu-lintas (Traffic Stream Models)
Hubungan antara variabel arus/volume lalu-lintas, kecepatan dan konsentrasi lalu-lintas disebut sebagai model arus lalu-lintas (traffic stream models). Terdapat
beberapa model hubungan antara kecepatan dan konsentrasi sebagaimana
yang akan dijelaskan berikut ini (Daniel L dan Mathew J.H, 1975).
Model Linier Kecepatan-Konsentrasi “Greenshields”,merupakan model yang sederhana dan dirumuskan dengan:
u = ut (1 – k / kj) ……………………………………………….. (6)
dimana: ut = kecepatan arus bebas (free flow speed) atau kecepatan pada saat volume lalu-lintas sangat rendah.
kj = konsentrasi pada saat lalu-lintas macet.
Model Logaritmik Kecepatan-Konsentrasi, merupakan model yang dikembangkan oleh Greenberg, dan dirumuskan dengan:
u = um ln (kj / k) ……………………………………………….. (7)
dimana: um = adalah kecepatan pada arus/ volume lalu-lintas maksimum (konstan).
Model Kecepatan-Konsentrasi “Generalized Single Regime”,terdiri dari beberapa model, meliputi: Model “Pipes-Munjal”, Model “Drew”, Model “Car-Following”, Model Kurva “Bell-Shaped”.
Model Kecepatan-Konsentrasi “Multiregime”, terdiri dari beberapa model, meliputi: Model “Edie’s”, Model “Under Wood Two-Regime”, Model “Dick’s”, Model “Fitting Multiregime” (gambar 1).
Studi
tentang kapasitas jalan umumnya mengacu pada dua pendekatan utama,
yaitu berdasarkan model hubungan kecepatan-arus lalu-lintas (speed-flow relationship) pada saat konsentrasi lalu-lintas rendah, dan “headway” pada
saat konsentrasi lalu-lintas tinggi. Lighthill dan Whitham (1964)
mengusulkan penggunaan kurva arus lalu-lintas-konsentrasi untuk
menggabungkan dua pendekatan tersebut. Beberapa fitur penting dari model
ini adalah sebagai berikut:
a. Pada saat konsentrasi adalah nol, maka kemungkinan tidak ada arus lalu-lintas.
b. Pada saat konsentrasi tinggi, pengamat mungkin juga tidak dapat mencatat arus lalu-lintas karena arus lalu-lintas berhenti.
c. Dengan demikian, kurva model ini akan berada diantara dua titik nol dari fungsi arus lalu-lintas.
Gambar 1 – Model-model Kecepatan Konsentrasi
Lighthill dan Whitham (1964) juga membahas tentang fenomena gelombang kejut (shockwaves) terkait
dengan model arus lalu-lintas-konsentrasi. Terdapat beberapa model
hubungan antara arus lalu-lintas dan konsentrasi (Daniel L dan Mathew
J.H, 1975).
Model Parabolik Arus Lalu-lintas – Konsentrasi, merupakan model yang dirumuskan oleh Greenshields, sebagai berikut:
q = k u = k ut (1-k / kj) = u .k – ut k2/ kj ………………………….. (8)
Untuk kondisi arus lalu-lintas maksimum digunakan turunan (diferensial) dari persamaan, dengan penetapan dq/dk = 0, dan pendefinisian qm (arus lalu-lintas maksimum) = ut kj / 4 = um kj / 2 ; km (konsentrasi maksimum) = kj / 2 dan um (kecepatan maksimum) = ut / 2.
Model Logaritmik Arus Lalu-lintas – Konsentrasi, merupakan model yang dirumuskan oleh Greenberg (gambar 2), sebagai berikut:
q = k u = k um ln (kj / k) …………………………………………………. (9)
Untuk kondisi arus lalu-lintas maksimum digunakan turunan (diferensial) dari persamaan diatas, dengan km = kj / е ; um = um ; qm = um kj / e.
Gambar 2 – Model Logaritmik Arus Lalu-lintas-Konsentrasi
Model Arus Lalu-lintas-Konsentrasi lainnya, meliputi: model arus lalu-lintas-konsentrasi “Discontinous”, yang merupakan model yang dikembangkan oleh Edie’s, dan model Arus Lalu-lintas-Konsentrasi Khusus (gambar 3).
Model arus lalu-lintas konsentrasi umumnya juga digunakan dalam mengkaji arus lalu-lintas pada segmen ruas jalan yang menyempit (bottle-neck), dan untuk pengendalian lalu-lintas pada jalan bebas hambatan. Berdasarkan model-model kecepatan-konsentrasi (speed-concentration models) dapat dikembangkan model hubungan antara kecepatan dan arus lalu-lintas (speed-flow models). Model ini memperlihatkan, pada saat konsentrasi nol, kecepatan adalah maksimum (free flow speed),
dan terdapat dua titik arus dimana lalu-lintas sama dengan nol, yakni
saat konsentrasi sama dengan nol dan saat konsentrasi maksimum. Adapun
diagram hubungan antara kecepatan dan arus lalu-lintas ada yang berbentuk linier dan ada yang berbentuk kurva (lihat gambar 4).
Gambar 3 – Model Arus Lalu-lintas-Konsentrasi “Discontinous”
Gambar 4 – Model Kecepatan-Arus Lalu-lintas
Highway Capacity Manual (1985) menggunakan kurva kecepatan-arus lalu-lintas (speed-flow curves) dan konsentrasi untuk menetapkan tingkat pelayanan (level of sevices) lalu-lintas.
C. Model Arus Lalu-lintas “Hidrodinamik dan Kinematik”
Persamaan kontinuitas dikembangkan
untuk menjelaskan adanya kemungkinan perbedaan perhitungan jumlah
kendaraan antara 2 (dua) titik pengamatan yang berdekatan pada suatu
ruas jalan, dimana diantara 2 (dua) titik pengamatan tersebut tidak ada
kemungkinan pertambahan jumlah kendaraan. Persamaan kontinuitas
dirumuskan dengan:
∂q/∂x + ∂k/∂t = 0 ……………………………………………………….. (10)
dimana: ∂q, ∂k = perbedaan hasil pengukuran q (arus) dan k konsentrasi) antara titik pengamatan 1 dan 2.
∂x, ∂t = jarak dan waktu tempuh antara titik pengamatan 1 dan 2.
Perilaku lalu-lintas pada suatu ruas jalan yang menyempit (bottleneck)menyerupai gelombang kejut (shock wave) dalam
aliran air (fluida). Keberadaan dan perilaku gelombang kejut
didemonstrasikan oleh Lighthill dan Witham (1964), tetapi penggunaan
analisis gelombang lalu-lintas tidak terbatas pada gelombang kejut (shock wave). Lighthill
dan Witham (1964) juga mendemonstrasikan beberapa masalah lalu-lintas
yang dapat dianalisa menggunakan asumsi sistem gelombang lalu-lintas.
Terdapat beberapa teknik analisis terkait dengan analisa gelombang
lalu-lintas, sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.
1. Fundamental dari Gerakan Gelombang Lalu-lintas
Gelombang kejut (shock wave) didefinisikan
sebagai gerakan dari perubahan konsentrasi dan arus lalu-lintas, dimana
dalam model ini kecepatan pada garis batas terjadinya perubahan arus
lalu-lintas dan konsentrasi dirumuskan dengan:
uw = (u2 k2 – u1 k1) / (k2 – k1) ………………………………………….. (11)
dimana: uw = kecepatan pada garis batas terjadinya perubahan arus lalu-lintas dan konsentrasi
u1,2 = kecepatan pada area 1 dan 2
k1,2 = konsentrasi pada area 1 dan 2.
Persamaan (2.11) di atas menunjukan bahwa uw adalah “slope” pada garis penghubung antara titik 1 dan 2 pada diagram arus lalu-lintas-konsentrasi.
2. Akselerasi Dalam Pengamatan Aliran Lalu-lintas
Dengan
mengacu pada rumus fundamental gerakan gelombang lalu-lintas dapat
dikaji berbagai variasi akselerasi pada aliran lalu-lintas. Akselerasi
lalu-lintas yang dilihat oleh pengamat yang tidak bergerak dirumuskan
dengan:
∂u/∂t = du/dk . ∂k/∂t = [ – dw. du/dk ] . ∂k/∂x ………………….. (12)
dimana: du/dt = akselerasi
aliran lalu-lintas yang dilihat oleh pengamat yang bergerak dalam
aliran lalu-lintas. Akselerasi positif apabila pengamat bergerak menuju
area dengan konsentrasi lebih rendah, dan negatif apabila pengamat
bergerak menuju area dengan konsentrasi lebih tinggi
∂u/∂t = akselerasi aliran lalu-lintas yang dilihat oleh pengamat dari suatu titik pengamatan tetap.
Kuantitas angka yang ada di dalam kurung dapat diambil postif, negatif, atau nol.
3. Perilaku Gelombang Kejut Untuk Model Kecepatan-Konsentrasi Spesifik.
Dengan mengacu pada model kecepatan-konsentrasi “Green Shield” dapat dirumuskan:
uw = ut .[ 1 – ( ŋ1 + ŋ2) ] ………………………………………………….. (13)
dimana: uw = Kecepatan pada garis batas terjadinya perubahan arus lalu-lintas dan konsentrasi dari suatu pergerakan yang tidak kontinyu.
ut = kecepatan arus bebas (free flow speed)
ŋ1, ŋ2 = Normalisasi konsentrasi pada dua area dengan konsentrasi yang berbeda. Normalisasi konsentrasi pada area 1 (ŋ1) = konsentrasi pada arus bebas dibagi konsentrasi di area 1.
Dalam Kasus Konsentrasi yang hampir Sama
Persamaan menjadi: uw = ut (1 – 2ŋ) ……………………………………………….. (14)
Gelombang Akibat Terjadiya Aliran Lalu-lintas Terhenti
Persamaan menjadi: uw = ut [1 – (ŋ1 + 1)] = – ut ŋ1 …………………………….. (15)
Gelombang Pada Saat Aliran Lalu-lintas Mulai Bergerak
Persamaan menjadi: ∂k/∂t + uw ∂k/∂x = 0 …………………………………………. (16)





Komentar
Posting Komentar